Sering yang dibutuhkan seseorang bukan hanya
kesempatan yang datang padanya, tapi bagaimana dia berani mengambil kesempatan
yang sudah ada di depan mata. Kelihatannya simpel, mudah untuk diucapkan,
tetapi apa iya seperti itu?
Aku adalah sosok yang lain dari sekarang, yang
tidak terlalu dekat dengan teman-teman seluruh konsentrasi di MPWK, yang tidak
akan mengambil kelas perancangan kota, yang masih berkutat dengan setumpuk
dokumen proyek perencanaan, dan tidak akan mendapat teman-teman baru yang luar
biasa dari jurusan Magister Ilmu Kelautan seandainya saja aku tidak nekat
mengambil kelas reguler yang mengharuskanku ikut kursus bahasa dengan biaya
yang lumayan mencekik dan membuatku terpaksa melepaskan semua kegiatan di luar
kuliah dan kursus.
Aku tidak akan pernah tau bahwa SK beasiswa ku
telah turun sekaligus mendapat kenalan baru dari ITB -sebut saja Ira- yang juga
mengenalkanku pada penerima beasiswa lain, seandainya saja aku tidak ikut tes
TCF. Meski harus dibayar dengan biaya yang bisa bikin nafas tertahan selama
beberapa detik, alis mengkerut, dan diikuti desahan pelan. Dan aku juga tidak
akan mendapatkan remborsment (yang
sedang diusahakan) jika aku tidak mengikuti kursus sekaligus tes DELF (semoga).
Aku tidak akan berurusan dengan kampus di luar
negeri dan mengetahui bahwa aku diperbolehkan kuliah di kampus tersebut, seandainya
aku mengurungkan niat untuk menanyakan tentang syarat level bahasa yang diminta,
meski banyak yang menyangsikan keberhasilannya. Dan aku mungkin tidak akan di
sini, berdiri menghadap jendela, menatap pepohonan yang daunnya berwarna merah
kecokelatan dan mulai gugur satu per satu, jika saja aku tidak menerima tawaran
untuk melanjutkan S2 di salah satu negara kiblatnya mode dunia. Ya, Perancis.
Meski aku seorang diri (benar-benar hanya seorang diri yang akan diberangkatkan),
dengan level bahasa hanya B1, dengan berbagai perasaan berkecamuk, dan sangat tahu
resikonya jika mengandalkan beasiswa dalam negeri dan dari departemen yang sama
dengan para pendahuluku. Bak cerita lama yang bergulir di telingaku, pertanyaan
tentang kepastian pencairan dana beasiswa dan sebagainya selalu berdenging
menciutkan nyali ini. Tapi sudahlah, toh aku sudah memutuskan. Aku menerima
kesempatan ini. Dan ternyata Tuhan punya
rencana lain. Detik-detik menjelang keberangkatan, Tuhan mengizinkan seorang
teman menemaniku, di kota yang sama, di kampus yang sama. That’s the miracle!
Dan mungkin saat ini temankui tidak akan membuat
perencanaan perjalanan liburan di Eropa, jika saja dia tidak menerima tawaran
beasiswa ke luar negeri yang hanya untuk setengah periode masa studinya di
Eropa. Dengan berbagai resiko dia berani mengambil keputusan yang aku bilang
berani, meski mendapat kecaman dari beberapa pihak. Nyatanya siapa sangka ada
tawaran beasiswa lain yang bisa menutupi sisa masa studinya di sini. Bukankah
itu suatu keajaiban? Dan jangan bilang bahwa Tuhan tidak mengambil peran.
Bahkan Tuhan sedang memainkan peran-Nya sebagai satu-satunya zat yang paling
berkuasa, mengubah segala sesuatu sesuai kehendak-Nya.
See?? Ini bukan soal kesempatan yang tak kunjung
datang. Ini hanya soal Anda berani atau tidak mengambil kesempatan yang sudah
datang di depan mata. Apa pun wujud kesempatan itu, coba ambillah. Mungkin dia
tidak datang dalam wujud sesuai harapan kita. Tapi dia datang kan? Tinggal anda
berani untuk menerimanya. Selebihnya, izinkan Tuhan yang menentukan. Lakukan
sebaik mungkin, kekuranganya biar Tuhan yang menutupi, karena Dia lah yang
MahaKaya, yang tak pernah kekurangan apa pun jua. Dan aku akan menunggu
keajaiban-keajaiban lain dari-Nya.